Bima Hermastho

Archive for the ‘Hadis’ Category

DOA NABI MUHAMMAD SAW

In Hadis on Desember 12, 2016 at 11:35 am

Iklan

Bolehkah Aku Mengikuti Engkau….

In Hadis on Oktober 28, 2011 at 11:46 pm

 

Allah Ta’ala berfirman: "Dan ketika Musa berkata kepada bujangnya: "Saya tidak akan berhenti berjalan sehingga sampai di pertemuan dua sungai atau aku berjalan sampai bertahun-tahun sehingga firman Allah: "Musa berkata kepadanya -yakni Hidhir-: "Bolehkah aku mengikuti engkau dengan maksud supaya engkau mengajarkan kepadaku kebenaran yang telah diajarkan kepadamu?” [34] (al-Kahfi: 60-66)

Keterangan:

Orang yang hendak dicari oleh Nabiyullah Musa a.s. yang dianggapnya lebih pandai daripadanya sendiri itu ialah Hidhir. Sebagian alim-ulama ada yang mengatakan bahwa Hidhir itu adalah seorang Nabi, ada pula yang mengatakan, ia seorang waliyullah yang memiliki karamah (keistimewaan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa sebagai tanda kemuliaan yang dikaruniakan oleh Allah padanya, jadi sama halnya dengan mu’jizat bagi seorang Nabi atau Rasul), juga ada yang mengatakan bahwa ia adalah orang shalih saja. Jadi dalam hal ini banyak pendapat alim-ulama Islam. Mana yang benar, hanyalah Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui. Juga diperselisihkan pula oleh beliau-beliau itu perihal kematian atau masih hidupnya Hidhir itu sampai saat ini, hingga tibanya hari kiamat nanti sebagaimana diperselisihkannya tentang kematian atau masih hidupnya Nabiyullah Isa al-Masih a.s. Tegasnya ada sebagian ulama yang menyatakan pendapatnya bahwa kedua beliau itu masih hidup dan baru akan mati nanti setelah datangnya hari kiamat, tetapi hidupnya Hidhir a.s. di bumi dan Isa a.s. di langit. Juga ada sebagian ulama yang menyatakan pendapatnya bahwa keduanya itu sudah mati. Wallahu A’lam bishshawaab. Ketika Nabiyullah Musa a.s. hendak mencari Hidhir, Allah memberikan petunjuk kepadanya bahwa tempat Hidhir itu ada di Majma’ul Bahrain yakni tempat pertemuan dua lautan. Inipun diperselisihkan pula, ada yang mengatakan bahwa lautan di situ maksudnya dua sungai. Jadi Majma’ul Bahrain, artinya ialah pertemuan dua sungai yakni Sungai Nil Biru dan Nil Putih. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan memang betul-betul pertemuan dua lautan, yakni lautan Hitam yang dulu masuk wilayah kerajaan Parsi di zaman kejayaannya dan lautan Tengah yang dulu masuk wilayah kerajaan Romawi di zaman keemasannya. Jadi kalau ini yang dianggap benar, maka pertemuan kedua lautan itu ialah di selat Bospores yang kini masuk wilayah Turki. Namun demikian, semua pendapat itu masih merupakan serba kemungkinan dan belum dapat dipastikan keshahihannya. Wallaahu A’lam bishshawaab.

Baca entri selengkapnya »

Engkau dan Hartamu Milik Ayahmu!

In Hadis on Oktober 28, 2011 at 11:13 pm

Ayah – Ibu – Anak – Keluarga

1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)
2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Saw bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq’alaih)
Penjelasan:
Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.
3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, "Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu." (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)
Keterangan:
Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor. Dia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku …." "Pergilah Kau membawa ayahmu kesini", perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata: "Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya. Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: "Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?" Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?" Rasulullah bersabda lagi: "Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!" Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: "Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …" Nabi mendesak: "Katakanlah, aku ingin mendengarnya." Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: "Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu …, seakan akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.’ Selanjutnya Jabir berkata: "Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: "Engkau dan hartamu milik ayahmu!" (HR. At-Thabarani dalam "As-Saghir" dan Al-Ausath).

Baca entri selengkapnya »