Bima Hermastho

Archive for Desember, 2009|Monthly archive page

Tentang Dzikir

In Love on Desember 15, 2009 at 10:19 pm

 

Allah swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Q.s. Al Ahzab: 41).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda :
“Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?” Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dzikir kepada Allah swt.” (H.r. Baihaqi).

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik na, bahwa Rasulullah saw. ‘bersabda:
“Hari Kiamat tidak akan datang kepada seseorang yang mengucap ‘Allah, Allah’.” (H.r. Muslim).
Anas r.a. juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Kiamat tidak akan datang sampai lafazh ‘Allah, Allah’ tidak lagi disebut-sebut di muka bumi.” (H.r. Tirmidzi).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah swt. Sungguh, ia adalah landasan bagi tharikat itu sendiri. Tidak seorang pun dapat mencapai Allah swt, kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya.”
Ada dua macam dzikir; Dzikir lisan dan dzikir hati. Si hamba mencapai taraf dzikir hati dengan melakukan dzikir lisan. Tetapi dzikir hatilah yang membuahkan pengaruh sejati. Manakala seseorang melakukan dzikir dengan lisan dan hatinya sekaligus, maka ia mencapai kesempurnaan dalam suluknya.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar, “Dzikir adalah tebaran kewalian. Seseorang yang dianugerahi keberhasilan dalam dzikir berarti telah dianugerahi taburan itu, dan orang yang tidak dianugerahinya berarti telah dipecat. “

Dikatakan bahwa pada awal perjalanannya, Dulaf asy-Syibly biasa berjalan dijalan raya setiap hari dengan membawa seikat cambuk di punggungnya. Setiap kali kelalaian memasuki hatinya, ia akan melecut badannya sendiri dengan cambuk sampai cambuk itu patah. Kadang-kadang bekal cambuk itu habis sebelum malam tiba. Jika demikian, ia akan memukulkan tangan dan kakinya ke tembok manakala kelalaian mendatanginya.

Dikatakan, “Dzikir hati adalah pedang para pencari yang dengannya mereka membantai musuh dan menjaga diri dari setiap ancaman yang tertuju kepada mereka. Jika si hamba berlindung kepada Allah swt. dalam hatinya, maka manakala kegelisahan membayangi hati untuk dzikir kepada Allah swt, semua yang dibencinya akan lenyap darinya seketika itu juga.”

Ketika al-Wasithy ditanya tentang dzikir, menjelaskan, “Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dan memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa. “
Dzun Nun al-Mishry menegaskan, “Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu.”

Abu Utsman ditanya, “Kami melakukan dzikir lisan kepada Allah swt, tapi kami tidak merasakan kemanisan dalam hati kami?” Abu Utsman menasihatkan, “Memujilah kepada Allah swt. karena telah menghiasi anggota badanmu. dengan ketaatan.”
Sebuah hadits yang masyhur menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw. mengajarkan : “‘Apabila engkau melihat surga, maka merumputlah kamu semua di di dalamnya.” Ditanyakan kepada bellau, “Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu kumpulan orang-orang yang sedang melakukan dzikir kepada Allah.” (H.r. Tirmidzi).

Jabir bin Abdullah menceritakan, “Rasulullah saw. mendatangi kami dan beliau bersabda :
“Wahai ummat manusia, merumputlah di padang taman surga!” Kami bertanya, “Apakah taman surga itu?’ Beliau menjawab, “Majelis orang melakukan dzikir.” Beliau bersabda, “Berjalanlah dipagi dan petang hari, dengan berdzikir. Siapapun yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt, melihat pada derajat mana kedudukan Allah swt. pada dirinya. Derajat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sepadan dengan derajat dimana hamba mendudukkan-Nya dalam dirinya.” (H.r. Tirmidzi, juga riwayat darl Abu Hurairah).

Asy-Syibly berkata, “Bukankah Allah swt. telah berfirman, ‘Aku bersama yang duduk berdzikir kepada-Ku’. “Manfaat apa, wahai manusia dari orang yang duduk dalam majelis Allah swt.?” Lalu ia bersyair berikut: Aku mengingat-Mu bukan karena aku lupa pada-Mu sesaat; Sedang bagian yang paling ringan adalah dzikir lisanku. Tanpa gairah rindu aku mati karena cinta, Hatiku bangkit dalam diriku, bergetar, ketika wujd memperlihatkan Engkau adalah hadirku, Kusaksikan Diri-Mu di mana saja, Lalu aku bicara kepada yang ada, tanpa ucapan, Dan aku memandang yang kulihat, tanpa mata.

Di antara karakter dzikir adalah, bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu, kecuali si hamba diperintah untuk berdzikir kepada Allah di setiap waktu, entah sebagai kewajiban ataupun sunnah saja. Akan tetapi, shalat sehari-hari, meskipun merupakan amal ibadat termulia, dilarang pada waktu-waktu tertentu. Dzikir dalam hati bersifat terus-menerus, dalam kondisi apa pun. Allah swt. berfirman :
“Yaitu orang orang yang dzikir kepada Allah, baik sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (tidur).” (Q.s. Ali Imran: 191).
Imam Abu Bakr bin Furak mengatakan, “Berdiri berarti menegakkan dzikir yang sejati, dan duduk berarti menahan diri dari sikap berpura-pura dalam dzikir.”

Syeikh Abu Abdurrahman bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, “Manakah yang lebih baik, dzikir ataukah tafakur? Bagaimana yang lebih berkenan bagimu?” Beliau berkata, “Dalam pandanganku, dzikir adalah lebih baik dari tafakur, sebab Allah swt. menyifati Diri-Nya sebagai Dzikir dan bukannya fikir. Apa pun yang menjadi sifat Allah adalah lebih baik dari sesuatu yang khusus bagi manusia.” Maka Syeikh Abu Ali setuju dengan pendapat yang bagus ini.

Muhammad al-Kattany berkata, “Seandainya bukan kewajibanku untuk berdzikir kepada-Nya, tentu aku tidak berdzikir karena mengagungkan-Nya. Orang sepertiku berdzikir kepada Allah swt.? Tanpa membersihkan mulutnya dengan seribu tobat karena berdzikir kepada-Nya!”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali menuturkan syair:
Tak pernah aku berdzikir kepada-Mu
melainkan hatiku, batinku serta ruhku mencela diriku.
Sehingga seolah-olah si Raqib dari-Mu berbisik padaku,
‘Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!
Salah satu sifat khas dzikir adalah, bahwa Dia memberi imbalan dzikir yang lain. Dalam firman-Nya :
“Dzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan dzikir kepadamu.” (Q.s. Al Baqarah: 152).

Sebuah hadits menyebutkan bahwa Jibril as. mengatakan kepada Rasulullah saw, bahwasanya Allah swt. telah berfirman, “Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.” Nabi saw. bertanya kepada Jibril, “Apakah pemberian itu?” Jibril menjawab, “Pemberian itu adalah firman-Nya, ‘Berdzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan akan berdzikir kepadarnu.’ Dia belum pernah memfirmankan itu kepada ummat lain yang mana pun.”

Dikatakan, “Malaikat maut minta izin dengan orang yang berdzikir sebelum mencabut nyawanya.”
Tertulis dalam sebuah kitab bahwa Musa as. bertanya, “Wahai Tuhanku, di mana Engkau tinggal?” Allah swt. berfirman, “Dalam hati manusia yang beriman.” Firman ini merujuk pada dzikir kepada Allah, yang bermukim di dalam hati, sebab Allah Maha Suci dari setiap bentuk “tinggal” dan penempatan. “Tinggal” yang disebutkan di sini hanyalah dzikir yang tetap dan sekaligus menjadikan dzikir itu sendiri kuat.

Ketika Dzun-Nun ditanya tentang dzikir, ia menjelaskan, “Dzikir berarti tiadanya ingatan pelaku dzikir terhadap dzikirnya.” Lalu ia membacakan syair :
Aku banyak berdzikir kepada-Mu bukan karena
aku telah melupakan-Mu;
Itu hanyalah apa yang mengalir dari lisanku.
Sahl bin Abdullah mengatakan, “Tiada sehari pun berlalu, kecuali Allah swt. berseru, ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah berlaku zalim kepada-Ku. Aku mengingatmu, tapi engkau melupakan-Ku. Aku menghilangkan penderitaanmu, tapi engkau terus melakukan dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok jika engkau bertemu dengan Ku’?”

Abu Sulaiman ad-Darany berkata, “Di surga ada lembah-lembah di mana para malaikat menanam pepohonan, ketika seseorang mulai berdzikir kepada Allah. Terkadang salah seorang malaikat itu berhenti bekerja dan teman-temannya bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau berhenti?’ Ia menjawab, ‘Sahabatku telah kendor dzikirnya’.
Dikatakan, “Carilah kemanisan dalam tiga hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Kemanisan hanya dapat ditemukan di sana, atau jika tidak sama sekali, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.

Ahmad al-Aswad menuturkan, “Ketika aku sedang melakukan perjalanan bersama Ibrahim al-Khawwas, kami tiba di suatu tempat yang dihuni banyak ular. Ibrahim al-Khawwas meletakkan kualinya dan duduk, begitupun denganku. Ketika malam tiba dan udara menjadi dingin, ular-ular itu pun berkeliaran. Aku berteriak kepada Syeikh, lalu berkata, ‘Dzikirlah kepada Allah!’ Aku pun berdzikir, dan ular-ular itu akhirnya pergi menjauh. Kemudian mereka datang lagi. Aku berteriak lagi kepada Syeikh, dan beliau menyuruhku berdzikir lagi. Hal itu berlangsung terus sampai pagi. Ketika kami bangun, Syeikh berdiri dan meneruskan perjalanan, dan aku pun berjalan menyertainya. Tiba-tiba seekor ular besar jatuh dari kasur gulungnya. Kiranya semalam ular itu telah tidur bergulung bersama beliau. Aku bertanya kepada Syeikh, Apakah Anda tidak merasakan adanya ular itu?’ Beliau menjawab, “Tidak. Sudah lama aku tidak merasakan tidur nyenyak seperti tidurku semalam.”

Abu Utsman berkata, “Seseorang yang tidak dapat merasakan keganasan alpa, tidak akan merasakan sukacita dzikir.”
As-Sary menegaskan, “Tertulis dalam salah satu kitab suci, ‘Jika dzikir kepada-Ku menguasai hamba-Ku, maka ia telah asyik kepada-Ku dan Aku pun asyik kepadanya’.” Dikatakan pula, “Allah mewahyukan kepada Daud as, ‘Bergembiralah dengan-Ku dan bersenang-senanglah dengan dzikir kepada-Ku’!”

Ats-Tsaury mengatakan, “Ada hukuman atas tiap-tiap sesuatu, dan hukuman bagi seorang ahli ma’rifat adalah terputus dari dzikir kepada-Nya.”
Tertulis dalam Injil, “Ingatlah kepada-Ku ketika engkau dipengaruhi oleh kemarahan, dan Aku akan ingat kepadamu ketika Aku marah. Bersikap ridhalah dengan pertolongan-Ku kepadamu, sebab itu lebih baik bagimu dari pertolonganmu kepada dirimu sendiri.“

Dikatakan, ‘Apabila dzikir kepada-Nya menguasai hati manusia dan setan datang mendekat, maka ia akan menggeliat-geliat di tanah seperti halnya manusia menggeliat-geliat manakala setan-setan mendekatinya. Apabila ini terjadi, maka semua setan akan berkumpul dan bertanya, Apa yang telah terjadi atas dirinya?’ Salah seorang dari mereka akan menjawab, ‘Seorang manusia telah menyentuhnya’.”
Sahl berkata, “Aku tidak mengenal dosa yang lebih buruk dari lupa kepada Allah swt.”

Dikatakan bahwa malaikat tidak membawa dzikir batin seorang manusia ke langit, sebab ia sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Dzikir batin adalah rahasia antara si hamba dengan Allah swt.
Salah seorang Sufi menuturkan, “Aku mendengar cerita tentang seorang, laki-laki yang berdzikir di sebuah hutan. Lalu aku pergi menemuinya. Ketika ia sedang duduk, seekor binatang buas menggigitnya dan mengoyak dagingnya. Kami berdua pingsan. Ketika ia siuman, aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan ia berkata kepadaku, Binatang itu diutus oleh Allah. Apabila engkau kendor dalam berdzikir kepada-Nya, ia datang kepadaku dan menggigitku sebagaimana yang engkau saksikan.”

Abdullah Al-jurairy mengabarkan, “Di antara murid-murid kami ada seorang laki-laki yang selalu berdzikir dengan mengucap Allah, Allah. Pada suatu hari sebatang cabang pohon patah dan jatuh menimpa kepalanya. Kepalanya pun pecah dan darah mengalir ke tanah membentuk kata-kata Allah, Allah.”

Iklan

MENCARI KEHIDUPAN DUNIA DAN AKHIRAT

In Love on Desember 15, 2009 at 10:11 pm

Oleh : KH. Drs. Sandisi

Artinya : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. [al-Jumu’ah (62) : 10]. Berkaitan dengan ayat ini, Pangersa Abah mendapati dua kekhawatiran. Kekhawatiran pertama; Setelah seseorang mendapatkan talqin dzikir, dia “asyik” dengan dzikirnya kemudian melupakan kehidupannya di dunia, melupakan tugas dan kewajibannya sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai warga masyarakat, melupakan kehadirannya sebagai manusia di muka bumi ini. Kekhawatiran yang kedua adalah sebaliknya, dia tidak mengamalkan dzikir yang telah diajarkan. Oleh karena itu, mari kita menyeimbangkan antara keduanya; bekerja di dunia dan beramal untuk akhirat. Seperti dalam sebuat hadits dikatakan: Tidak termasuk kebaikan, jika kita mencari kebaikan di dunia tapi melupakan akhirat atau sebaliknya.

Pada ayat di atas, kita diperintahkan untuk shalat. Alhamdulillah, selain shalat secara lahir yang telah di atur oleh ilmu fiqih, kita juga telah diberi tahu tentang shalat secara bathin. Shalat secara lahir ditentukan waktunya; Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya serta shalat sunat lainnya. Sedangkan shalat bathin, tidak ditentukan waktunya. Kapan saja, dimana saja, sedang apa saja, baik dalam keadaan suci ataupun berhadats. Shalat bathin yaitu selalu Ingat Allah di dalam hati (dzikir Khofi) harus terus dilaksanakan. Banyak hadits yang menyinggung masalah shalat ini. Shalat adalah tiangnya agama … Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab … dan lain-lain.

Setelah shalat, kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi, ke barat, ke timur, ke utara ke selatan, kemana saja. Carilah karunia yang telah diberikan Allah. Menurut Imam al-Ghozali carilah karunia itu diartikan dengan mencari ilmu. Karena Nabi Muhammad Saw. bersabda: Barang siapa yang menghedaki dunia pakailah ilmu, barang siapa yang menghendaki akhirat pakailah ilmu. Barang siapa yang menghendaki kedua-duanya pakailah ilmu. Pangersa Abah selalu berharap, untuk terus belajar, terus menuntut ilmu, menambah pengetahuan, menambah pengalaman. Coba bandingkan Dua orang Tukang Batu. Yang satu hanyalah seorang tukang batu biasa. Dan yang satu lagi Tukang Batu Luar biasa yaitu seorang dokter yang bertugas mengambil batu ginjal dengan menjalankan operasi. Si Tukang Batu biasa, kerja seharian, mungkin hanya mendapatkan uang beberapa puluhan ribu rupiah saja, tapi seorang tukang batu luar biasa, hanya beberapa menit atau jam, bisa mendapatkan uang yang jauh berbeda. Begitu juga dengan ibadah. Apalah artinya ibadah siang malam tanpa dibarengi dengan ilmu.

Salah satu ilmu yang telah diberikan oleh Pangersa Abah adalah dzikir Khofi. Setiap pekerjaan baik yang kita laksanakan, apabila diiringi dengan ingat kepada Allah, maka dia akan bernilai ibadah, meskipun hanya berolah raga, mengikuti rapat, jalan-jalan dengan keluarga, nonton TV dan sebagainya. Tanpa diiringi dengan ingatan kepada Allah, meskipun shalat di depan Ka’bah, tiadalah artinya. “Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepuk tangan… [al-Anfal (8) : 35]

Oleh karena itu, marilah kita tunaikan shalat, laksanakan tugas sehari-hari disertai dengan dzikrullah (selalu ingat kepada Allah di dalam hati).

Belajar, Dzikrullah, dan Barokah

In Love on Desember 15, 2009 at 10:04 pm

Ustadz Haji Ali Mohamed

Untuk apa kita berada di Suryalaya ini, dan apa yang bisa kita peroleh? Ada banyak sekali hal, tapi sedikitnya ada dua perkara :
1. Untuk belajar dzikrullah. 2. Untuk mencari barokah.

Belajar Dzikrullah itu apa? Bukankah sebelum datang ke Suryalaya kita pun berdzikir, Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah wallahu akbar……. Jika belajar dzikrullah tentu saja ada yang mengajarkannya kepada kita. Kita tidak bisa belajar sendiri tetapi harus mencari guru. Siapakah Guru itu? Ibu bapak adalah guru, para pendidik di sekolah adalah guru. Tetapi Guru yang dimaksud disini adalah seseorang yang memiliki beberapa kriteria. Dia adalah seorang mursyid, seorang mu’allim, seorang mudarris, wilaayah, murobbi, muaddim. Jika seseorang memiliki beberapa hal tersebut dialah seorang syaikh. Syaikh inilah yang bisa memberikan irsyad, ta’lim, tadris, tarbiyah, membawa kita pada wilaayah dan yang terpenting adalah mengajarkan akhlak sehingga kita memiliki budi pekerti yang luhur.

Kemajuan ilmu pendidikan, ilmu kedokteran, ilmu pengetahuan dan teknologi serta yang lainnya, saat ini telah membuat manusia bangga. Tetapi semua itu belum bisa menyelesaikan masalah besar yang dihadapi dunia saat ini. Manusia tidak lagi beradab, tidak bermoral, tidak beretika. Oleh karena itu pendidikan apapun harus disertai dengan pembinaan akhlak. Jika tidak begitu, maka pendidikan tidak akan mampu mencetak manusia memiliki akhlak yang mulia meskipun di perguruan tinggi. Rasulullah Saw. bersabda : “Dan dialah Allah yang memberikan pendidikan adab yang paling sempurna”. Jadi, Rasulullah Saw. memiliki akhlak yang mulia karena Allah sendiri yang telah mengajarkannya. Alhamdulillah, kita telah dipertemukan dengan Pangersa Abah. Dialah seorang syaikh, seorang mursyid, seorang mu’allim, seorang mudarris, seorang murobbi, seorang muaddid, seorang maulaana dan yang terpenting adalah Pangersa Abah dapat membantu kita menjadi manusia yang sempurna.

Setiap orang bisa saja mengajarkan dzikrullah. Tetapi dzikir yang diajarkan oleh seorang syaikh yang memiliki kriteria di atas tadi maka dialah seorang yang telah dimuliakan oleh Allah, yang telah dipilih oleh Allah sehingga apa yang disampaikan melaui lisannya akan sangat berkesan di dalam hati kita. Dia itulah termasuk golongan :

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah….”. (QS. al-Fath : 10).

Talqin Dzikir yang kita peroleh dari Syaikh Mursid Pangersa Abah ini, kemudian kita amalkan sesuai dengan tuntunannya, selain itu terus-menerus bermujahadah untuk melawan hawa nafsu kita maka hasil dari dzikrullah itu adalah menjadikan kita manusia berTANBIH. Lihatlah TANBIH syaikh almarhum H. Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad. Tanbih inilah sebagai barometer atau ukuran apakah dzikir yang kita amalkan sudah betul. Bagaimana sikap kita kepada yang tua, kepada yang muda, kepada sesama, kepada fakir miskin, kepada mereka yang berbeda agama, sikap kita kepada peraturan negara dan sebagainya. Mereka inilah yang oleh Allah Swt. dilukiskan di dalam surat al-Furqan ayat 63-77 :

“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka….”

Siapakah ‘Ibaadurrohman? ‘Ibaadurrohman adalah seorang hamba yang memiliki rasa kasih sayang kepada sesama manusia meskipun kepada orang yang berbuat jahat kepadanya. Karena pada dirinya disandarkan salah satu sifat Allah yaitu ar-Rohman. Siang hari mereka berinteraksi dengan manusia dan pada malamnya mereka sangat dekat kepada Allah. Hamba inilah yang memiliki ketenangan bathin karena hatinya selalu khusyu, berdzikir kepada Allah. Dengan cara apakah hati kita supaya tenang? Dengan dzikrullah…

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang”. (QS. ar-Raad : 28).

Selain belajar berdzikir, mencari seorang Mursyid maka kita pun harus mencari barokah. Allah Swt. telah menjadikan dunia ini penuh barokah. Al-qur’an adalah barokah, Mekkah (Baitullah, Hajar Aswad) adalah tempat yang barokah. Begitupun manusia biasa menjadi mulia jika didalamnya diletakkan barokah. Jadi apapun bisa menjadi barokah jika Allah meletakkan kepadanya kebaikan. Sebagai contoh Hajar Aswad hanyalah sebuah batu tapi Allah telah meletakkan barokah di dalamnya sehingga Sayyidina Umar menciumnya, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Banyak ayat-ayat lain di dalam al-Qur’an yang berisikan kata barokah ini. Barokah ini adalah ketentuan mutlak yang Allah berikan kepada sesuatu yang dikehendaki-Nya. Suryalaya mempunyai barokah, guru kita Pangersa Abah mempunyai barokah.

Kalau kita percaya dan yakin maka banyak sekali barokah yang bisa kita lihat dan rasakan. Dahulu kita tidak terkenal, tidak terhormat, tidak mempunyai pangkat dan kedudukan, tapi sekarang kita senang, mempunyai pangkat dan kedudukan yang terhormat. Darimanakah itu semua….? Oleh karena itu kita perlu bersyukur kepada Allah dengan cara mengamalkan dzikrullah yang telah diajarkan oleh Pangersa Abah. Mudah-mudahan semua itu mampu menjadikan hati kita bersih dari penyakit-penyakit hati dan tidak membuang-buang waktu yang telah diberikan oleh Allah. Marilah kita menjadi murid yang baik dengan cara mentaati ajaran Guru Mursyid, dzikrullah, mengamalkan Tanbih, beribadah dengan ikhlas lillahita’ala. Bersama-sama membangun Suryalaya dengan kekuatan kita masing-masing dan dengan kekuatan karomah dari para wali-wali Allah.

KEHEBATAN KALIMAT LAA ILAAHA ILLALLAAH

In Love on Desember 8, 2009 at 11:12 am

 

KH. AYI BURHANUDIN

“… Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan” (QS. al-Maidah : 15). Nabi Muhammad diciptakan dari Nur keagungan Allah Swt. Dari Nur itulah kemudian tercipta seluruh makhluk. Kalimat ma’rifat yang sudah kita dapatkan juga merupakan bagian dari Nur Muhammad. Dzikir Jahar dan dzikir Khofi bisa menjadi cahaya penerang bagi kita dan menjadi api bagi syetan sehingga membakarnya.

Kalimat dzikir Laa ilahaa illallah mempunyai 19 nama diantaranya : Kalimat tauhid, Kalimat Ikhlas, Kalimat Ahsan, Kalimat da’watul haq, Kalimat thoyyibah, Kalimat ‘Urwatul wutsqo, Kalimat tsamma’ul jannah (harga dan pembeli syurga), Kalimat taqwa, Kalimat Islam, Kalimat kedekatan dengan Tuhan, Kalimat kemenangan dst. Alhamdulillah kita sudah mendapatkannya.

Kehebatan Laa ilahaa illallah itu disebutkan : Tidak akan dibuka pintu langit (kesatu, kedua … ketujuh) oleh Allah bagi orang yang berdo’a jika tidak melalui kalimat Laa ilahaa illallah. Artinya do’a tidak akan diijabah apabila kalimat Laa ilahaa illallah menyertainya. Kunci Pintu Surga adalah Laa ilahaa illallah. Alhamdulillah kita sudah mendapatkannya dan mudah-mudahan bisa membukanya. Sebaliknya kalimat Laa ilahaa illallah bisa menutup pintu neraka. Barokah dari langit dan bumi akan datang kepada orang yang banyak mengucapkan Laa ilahaa illallah. Kalimat Laa ilahaa illallah bisa membuka/mengeluarkan ruh manusia yang tidak bisa kembali kepada Allah ketika azalnya tiba. Hakikat Laa ilahaa illallah adalah dzikir Khofi. Dengan dzikir inilah kita belajar untuk bisa kembali kepada Allah. Dzikir Laa ilahaa illallah bisa menutup, mengendalikan nafsu jelek yaitu nafsu amarah dan lawwamah juga untuk mengunci pintu kemaksiatan. Mudah-mudahan kita semua mampu mengamalkan dzikir ini sesuai dengan tuntunan, bimbingan dan contoh dari Guru Mursyid.

Pulangnya Ahli Laa Ilaaha Illallah

In Love on Desember 8, 2009 at 10:22 am

Oleh : KH. M. Abdul Gaos SM.

Sejak tahun 1972 sampai sekarang tidak pernah ada Ikhwan TQN PP. Suryalaya di Cisirri yang mati. Tetapi mereka meninggal pada saatnya. Seperti kemarin aki Fakhrurozi setiap setelah Shalat Isya biasanya makan dan ngobrol. Ketika sudah sampai waktunya, ujung dari hidupnya tidak mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Malah dia berkata “Saya mau tidur niat ibadah”. Terus melanjutkan “Ilaahi anta maksuudi,…” demikian bahasanya, lalu dia meninggal. Begitu juga yang terjadi kepada saudara saya (sifat adik). Dia mengatakan, “Mau tiduran”. Tidak mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Biasanyakan kalau tiduran tidak langsung meninggal.

Berbeda lagi dengan wak Empud leuwihalang berkata : “Jemput Aang (Gaos) agar jadi saksi kalau Ua mau pulang”. Maka setelah saya berada di depannya wak Empud berkata : “Aang menjadi saksi, saya mau pulang”. Tidak perlu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Dikarenakan sudah sejak 1972 ditalqin berarti sudah pulang sejak tahun itu juga. Masih juga seorang Ikhwan yang bernama H. Komar dari Banjar yang sudah 60 tahun mengadakan Manaqiban. Pangersa Abah selalu bertanya siapa penerusnya ? Terakhir ketika saya manaqib di rumahnya, ada berita dari rumah sakit Bandung bahwa keadaannya alhamdulillah ada kemajuan. Sewaktu saya menuju ke Suryalaya di tanya oleh Pangersa Abah : “Dari mana ?”. Jawabannya : “Dari Banjar”. Lalu Pangersa Abah bertanya lagi : “Bagaimana keadaannya dan siapa penerusnya?”. Jadi Beliau sudah mengetahui akan kemana.
Setelah itu datang H. Kuswa membawa air untuk H.Komar yang katanya sudah dibawa ke rumah. Maka Pangersa Abah menyuruh : “Aos lihat ke sana untuk mewakili Abah dan katakan kepada keluarganya supaya jangan menarik-narik serta mendorong-dorongnya. Dia sudah mempunyai tempat di sana”. Adapun yang maksud menarik-narik dan mendorong-dorong adalah selang yang disambung ke pernapasannya. Maka begitu ditarik selang tadi, langsung H. Komar pulang.

Termasuk yang terjadi pula pada orang tua, yaitu Bapak. Pangersa Abah berkata : ”Bapakmu itu sudah leluasa (logor) kalaupun pulang sudah ada tempat dan kalaupun masih dibutuhkan terserah”. Takkala Ucu (A Ucu) ke Suryalaya sewaktu bapak mau “pulang”, Pangersa Abah berkata : “Sampaikan selamat (wilujeung)”. Maka “pulanglah”. Kalau ibu berbeda lagi ceritanya. Sama seperti yang lain pada akhir ucapannya bukan Laa Ilaaha Illallah. Ibu berkata “ingin pulang”. Disangka saya ingin pulang dari Panumbangan ke Ciomas. Setelah di sanapun berkata seperti itu juga. Saya berkata : “Mih, tunggu dulu, saya mau mengaji ke sampai hari Sabtu”. Setelah selesai hari Sabtu, saya minta pamit lagi untuk mengaji di Cijantung, ketika minta pamit Beliau tidak menjawab. Begitu memakai kaos kaki ada yang memanggil saya untuk menemui ibu. Lalu ibu berkata: “Cep ! Emih pulang sekarang saja, dido’akan sekali”. Lalu beliau “pulang”.

Rasulullah SAW. telah bersabda bahwa : “Bahwa bagi ahli Laa Ilaaha Illallah, tidak ada rasa takut ketika maut datang”. Karena malaikat Ijroil bukan mencabut tetapi menjemput. Di kubur pun tidak akan bertemu Munkar – Nakir dikarenakan sudah dibersihkan dari berbagai kemungkaran oleh kalimat Laa Ilaaha Illallah. Termasuk ketika di Mahsyar bagi ahli Laa Ilaaha Illallah tidak akan menemukan kesulitan dan kekhawatiran. Mereka menemukan kebahagiaan dan kesenangan, seperti yang dijanjikan Allah SWT.

————

Terimakasih kpd Ajengan GAOS atas pencerahannya, semoga Allah sentiasa meridhoi Ajengan, amin.

Case study: A fresh approach of the Balanced Scorecard in the Heathrow Terminal 5 project

In Organizations on Desember 6, 2009 at 9:16 pm
1. Introduction

Heathrow Terminal 5 opened on 27 March 2008 with high expectations. It represents a major step in the transformation of Heathrow and it is now a major gateway to the UK. From the start T5 was different and it needed to be due to its size, complexity and proximity. Despite some teething problems on opening, T5 was a catalyst for new and improved ways of working. One such initiative is the application of a Balanced Scorecard approach in managing quality in major projects.

For nearly two decades organisations in both the manufacturing and service industries have been working arduously at trying to bring the power, discipline and rigour of performance measurement into their organisations based on the Balanced Scorecard. The concept of a Balanced Scorecard by Kaplan and Norton (1996) is a strategic measurement system organised in four perspectives (financial, customer, internal processes, and learning and growth) that aims to establish tangible performance indicators in all functions of the business. One of the proven virtues of this system is that it proposes a balance between concepts that could be contradictory to managers. For example, it aims to balance between short-term and longer-term objectives, financial measures versus operational measures, internal performance versus external performance, enabling indicators versus results indicators and between leading and lagging indicators.

As might be expected, it is soon recognised (Zagrow, 2003; Project Management Institute, 2004) that the same benefits an organisation as a whole can derive from the deployment of a Balanced Scorecard based performance measurement system can also be acquired by a project’s management. Performance measures enable project managers to track whether the projects they are managing are moving in the right direction. Furthermore, projects do not only provide financial benefits: many of the outcomes of a project are intangible in nature. Project leaders are beginning to come out of the box of traditional project objectives, such as time, cost, risk and safety, and are moving towards the softer issues of project quality (Basu, 2008). This also means that many traditional performance measurement tools do not capture these benefits. The Balanced Scorecard approach enables us to identify the intangible drivers and project outcomes. So the application of the Balanced Scorecard in project management is becoming attractive to project managers.

However, a customised application of a performance management system based on the concept of the Balanced Scorecard in Heathrow Terminal 5 Project has created a fresh approach to involve all key stakeholders, including major consultants and contractors, to move towards a project quality culture.

2. Heathrow Terminal 5 project

BAA’s Terminal 5 Programme at London Heathrow Airport was one of Europe’s largest construction projects. Terminal 5 caters for approximately 30 million passengers a year and provides additional terminal and aircraft packing capacity. There are 42 aircraft stands (in phase one) including stands to cater for the Airbus A380. T5 features a world-class transport interchange connecting road, rail and air transport. The Heathrow Express from London Paddington and the Piccadilly Line have been extended and a new spur road links T5 to the M25 motorway. Passengers move from the terminal to satellite buildings by a driver-less tracked transit system. The new 87-metre control tower will meet the longer term demands of air traffic control at Heathrow. The facility opened to the public on 27 March 2008 and represents a £4.3 billion investment to BAA.

The project was delivered by BAA working in partnership with suppliers and the airline operator British Airways. By 2008 around 50,000 people, employees and key stakeholders, have been involved with building T5, working both on and off site. Only about 120 employees were directly employed by BAA. The project has deployed circa 100 first-tier contractors and consultancy firms, of which only three contractors (Laing O’Rourke, AMEC and MACE) were designated as principal contractors.

The mission and key objectives of the project included to:

  • set new standards in delighting the traveller at T5;
  • develop and deliver T5 to new industry standards of health safety and security;
  • earn the proactive support and trust of key stakeholders;
  • achieve exceptional performance to ensure value for money, on time delivery and an efficient and productive T5; and
  • leave behind a legacy of quality.

The need of supplier partnerships in line with the T5 Agreement (Little, 2005) and the complexity of rail, road, construction and systems requirements of the project were additional drivers.

To achieve these audacious targets in money and programme BAA had to consider a novel contracting and procurement strategy supported by a performance management system. Suppliers signing up to BAA agreements are expected to work in integrated teams and display true partnering behaviours and values akin to partnering. Before embarking on the Terminal 5 (T5) programme of works, BAA looked at a number of major UK construction projects to ascertain lessons learned, particularly where they had gone wrong. BAA decided that they had to have an agreement that could deal with an adaptable and dynamic approach dealing with the uncertainties and embracing integrated teams. So BAA wrote its own bespoke agreement or contract. The same conditions of contract applied to all key suppliers irrespective of type or usual position as a subcontract. And to support the governance of the project in line with this agreement a Balanced Scorecard based performance management system was developed for the T5 project.

3. Drivers of the Balanced Scorecard

It is recognised (Basu, 2004) that the comprehensive approach of a well-designed performance management system is underpinned by three fundamental criteria leading to the success of a performance management system including the Balanced Scorecard. These are:

  1. rigour in purpose;
  2. rigour in measurement; and
  3. rigour in application.
3.1 Rigour in purpose

Depending on the business objective, the metrics would vary in different industries. The metrics should be derived in alignment with company objectives and an emerging area for the four inter-linked perspectives of the Balanced Scorecard. The metrics should be clearly defined, validated and accepted by users during a pilot exercise.

3.2 Rigour in measurement

The success of established metrics will depend on the effectiveness of data collection and monitoring systems. This could vary from a manual process on a spreadsheet to a sophisticated ERP system.

3.3 Rigour in application

The value of a well-designed and monitored Balanced Scorecard will be lost if the data is not used to improve and sustain performance. A review process should be in place to review the metrics continuously and take action for performance improvement. Each measure should have a target both for the current year and the “best in classes” for the future.

In keeping with the above criteria of good practice of performance management there were both generic and specific drivers of adopting a customised Balanced Scorecard approach for the T5 project. No doubt the application of a Balanced Scorecard approach and key performance indicators (KPIs) to T5 were influenced by some traditional primary factors, such as:

  • the KPIs give everyone a clear picture of what is important;
  • the KPIs enable the project leadership team to view all projects at a glance in a consistent way; and
  • the KPIs complement the measurement of financial performance.

However, the need of supplier partnerships and stakeholder management in line with the T5 Agreement and the complexity of rail, road, construction and systems requirements of the project also generated collaborative (Basu, 2001) secondary drivers of customising the Balanced Scorecard in the T5 performance management system. It aimed to address some key management questions:

  • Do we have adequate measures to monitor interface arrangements with key stakeholders?
  • Do the design solutions have the required technical and functional approvals?
  • Have we agreed what to inspect and test and who will verify compliance?
  • Have we benchmarked the quality standards?
  • Are aiming to do it right first time?
  • Is the work complete, reliable and maintainable at handover?
4. T5 performance management system
4.1 Key performance indicators and measures

The performance management system of T5 is underpinned by well thought out key performance indicators and measures. As shown in Figure 1, there are five key performance indicators (KPIs), ten key measures and 37 performance data.

The KPIs are selected as high-level quality indicators to steer the major project objectives and requirements, ensuring that stakeholders are identified, requirements and benchmarks agreed, inspections and tests are planned to get them right first time and work is complete. The KPIs, supported by linked key measures, provide overall snap shots to direct the project through enablers, monitoring progress or assuring results. The performance data are the metrics that are measured for each part of the project by team members, including suppliers, to monitor performance as a target or planned versus actual. The key measures are the chosen ten measures to report and publish regularly.

As shown in Table I, as an example of metrics for the manufacturing and assembly stage of the project, each KPI is linked to relevant key measures and each key measure is supported by a number of performance data.

4.2 Guidance notes

It is important to recognise that all metrics must be tried and tested with worked out examples and also validated by collecting trial data under different conditions before communicating to the project team. It was helpful to provide a guidance note for each metric which are then explained to team members in workshops to gain their understanding and acceptance. A similar process was followed for T5 performance metrics and a Quality KPI Workbook was prepared. The workbook contained description and definition of each indicator and measure supported by guidance notes and individual or team responsibilities. For example each key performance indicator and performance measure (also called Data Table Heading) was supported by guidance notes for data collection and reporting as shown in Table II for the KPI, “Verifications Planned & Work Supervised”. An example of how a description is presented is shown in Table III.

In order to clearly assign responsibility and accountability for each KPI a simple RACI (responsible, accountable, consult and inform) format was used. Each team member or leader either as an individual or as a team was aware of the role as a sponsor (responsible), owner (accountable), contributor (consult) or participant (inform). Table IV shows an example of RACI for key performance indicators.

5. Performance monitoring and improvement
5.1 Embedding performance management in the T5 project

The roll out and implementation of the Balanced Scorecard based performance management for the T5 Project were enabled and enhanced by two major initiatives of the project:

  1. the T5 Agreement; and
  2. a four-tiered approach of quality culture.

The T5 Agreement was agreed between BAA and the major consultants and first tier contractors. Under the terms of this T5 Agreement, BAA took a single insurance policy to cover the multi-billion pound project. And because BAA had shouldered the risk, it expected the consultants and suppliers to work together. People from all stakeholders were encouraged to raise issues at the earliest opportunity. This helped the reporting and discussions on performance and non-conformance issues. “ When you align people’s objectives, stuff happens. The agreement has allowed us to work with our consultants and suppliers in a refreshing new way”, says Andrew Wolstenholme, T5 Project Director.

As shown in Figure 2, an inter-related four-tier approach (Millard, 2005) of embedding quality culture to project team members and suppliers was introduced in 2005.

This four-tier approach is an on going process and is primarily driven by focussed discussion groups and workshops. The stakeholder engagement and commitment process is supported by the project executive’s commitment to engage with project leadership and suppliers (principals) to introduce a right first time quality concept and get their buy-in and commitment. The culture and behaviour change process has been iterative, comprising regular workshops, briefing, awareness and feedback on quality KPIs and right first time behavioural change programme. This is further supported by the third-tier communication campaign, which includes quality logo branding, quality commitment workshops, quality booklets, quality walkabout, quality awards and posters. The fourth tier on quality best practice started with research and interviews with experts to establish best practices and align them with quality KPIs. This was followed by supervisor training and workshops to ensure understanding and ownership from supervisors.

5.2 Monitoring and Improvement

Each project team (such as airfield, baggage, rail, TTS, etc.) record, measure and monitor each performance measure, and on a monthly basis the ten key performance measures are reported as a Balanced Scorecard. Table V shows an example of a Balanced Scorecard.

The overall T5 results for Key Performance Measures are also presented graphically as the quality management profile shown in Figure 3.

The key performance measures provide a snapshot of the performance of each project team, which are also highlighted by RAG (red, amber, green) colour codes according to their status with regard to targets. However improvement projects are acted upon more by individual performance measures at the specific project level. The most significant contributors to improvement projects are non-conformance reports (NCRs). There are nine performance measures related to NCRs as part of one KPI, viz. compliance assured. These measures enable the quantification of a part of COPQ (cost of poor quality) given by estimated cost of NCRs. Root cause analyses by type of non-conformance and supplier lead to continuous improvement in design and processes and savings. Figure 4 shows an example of NCR report analysis.

Overall, circa 6,000 non-conformance reports were raised on T5 and the cumulative cost of non-conformance was only 0.6 per cent of the budget. Analysis of the data showed that 70 per cent of the total cost of non-conformance resulted from just 150 reports. A no-blame culture resulted in speedy and effective resolution of all issues.

6. Comparison with aspects of the Balanced Scorecard

As discussed in sections 3 and 4, key performance indicators and key measures of the T5 project were customised to meet the requirements of the T5 Agreement and the complexity of the project, spanning rail, road and air infrastructures. The key balancing principles of the four aspects (financial, customer, internal processes, and learning and growth) of Kaplan and Norton’s Balanced Scorecard have been incorporated into the T5 KPIs as shown in Figure 5.

In Kaplan and Norton’s Balanced Scorecard the enabling or leading indicators are provided by learning and growth. In the T5 Balanced Scorecard, the enabling indicators are “Benchmarks Agreed” (which also include some financial benchmarks) and “Verifications Planned & Work Supervised” (containing “Supervisor Training”). As regards the lagging or results indicators, “Handover Agreed & Work Complete” in T5 relates to the customer aspect of Kaplan and Norton, while the T5 KPIs “Inspected & Protected” and “Compliance Assured” relate to the internal process aspect of Kaplan and Norton.

On a closer analysis, not all the key measures as a group in each of T5 KPIs conform to specific aspect of Kaplan and Norton Balanced Scorecard as shown in Figure 5. For example “Total Estimated Cost of NCRs”, which is a key measure of the KPI “Compliance Assured”, also relates to the financial aspect. The matching of T5 metrics is more appropriate at the level of key measures as shown in Table VI.

It is arguable that there are some gaps in T5 key performance indicators and key measures related the financial and growth (innovation) aspects but the manufacturing and assembly stage KPIs would not be expected to address this.

7. Learning points

It is evident from the preceding analysis that the fundamental principles of the Balanced Scorecard have been gainfully adopted and customised to the performance management systems of T5 meeting the specific requirements of this complex major project. The best practices of project performance management arising from this case study include:

  • encouraging supplier partnership and proactive involvement of contractors in monitoring and improving project quality and conformance to standards;
  • providing indicators and measures in three main themes as enablers, monitoring progress and showing results along the project life cycle right up to the handover and completion of work;
  • the metrics and processes are validated and then embedded by extensive discussions with stakeholders followed by documentation, communication campaign and training workshops; and
  • the ongoing reporting of non-conformance reports (NCRs) supported by the estimation of cost of non-conformance and improvement projects based on root cause analysis is a strong point of the process and opens the opportunities for Six Sigma and innovation.

The application of the T5 Balanced Scorecard over a few years has also focused on areas of further refinement. These include:

  • incorporate Six Sigma training and methodology in the project quality strategy and link them with NCR-related measures;
  • explore and then extend a Balanced Scorecard approach and metrics to the design phase (including conceptual and preliminary engineering) of a major project (this is now in place for BAA major capital projects); and
  • align the key performance indicators and measures to a formal self-assessment of EFQM (European Foundation of Quality Management) type excellence process.

In Kaplan and Norton’s Balanced Scorecard the enabling or leading indicators are learning and growth. In the T5 Balanced Scorecard the enabling indicators are “Benchmarks Agreed” and “Verifications Planned & Work Supervised”.

8. Summary and conclusions

This case study is an important first step in providing support towards measuring, improving quality standards in major projects. Initial research work (Basu, 2008) indicates that in spite of formal quality plans supported by PRINCE 2 and ISO 9000 many projects managed to “tick many boxes” but failed to deliver expected quality criteria. The performance management system of the T5 project, having learned from other major projects, has established a “best practice” of the application of a Balanced Scorecard approach in major projects by involving major stakeholders and contractors.

The metrics of the T5 Balanced Scorecard have been designed to reflect specific requirements of the project as enablers as well as showing results leading to continuous improvement. The experience of the project team indicates that NCR (non-conformance resolution) related data have been most effective in identifying the cost of poor quality, to improve design and processes by analysing root causes by task or supplier and also to attract the attention of the project board.

There are variations of performance metrics depending on variable quality requirements and expectations of stakeholders and therefore among many learning points two key pointers emerging from theT5 Balanced Scorecard are:

  1. that metrics can be customised for major projects, showing the value of customising measures within the framework of Kaplan and Norton’s Balanced Scorecard; and
  2. that suppliers should be empowered to own the monitoring and improvement process using their performance data.


Figure 1T5 metrics triangle


Figure 2Four-tiered approach


Figure 3T5 quality management profile


Figure 4Sample NCR charts


Figure 5Aspects of the Balanced Scorecard


Table IThe relationships between key performance indicators, key measures and performance data


Table IIGuidance notes for the “Verifications Planned & Work Supervised” KPI


Table IIIDescription of a KPI


Table IVRACI for KPIs


Table VT5 Balanced Scorecard for December 2007


Table VIT5 key measures in the aspects of the Balanced Scorecard

References

Basu, R. (2001), "New criteria of performance management: a transition from enterprise to collaborative supply chain", Measuring Business Excellence, Vol. 5 No.4, pp.7-12.

[Manual request] [Infotrieve]

Basu, R. (2004), Implementing Quality, Thomson, London, .

[Manual request] [Infotrieve]

Basu, R. (2008), "A third dimension of project quality", Quality World, Vol. May pp.34-8.

[Manual request] [Infotrieve]

Kaplan, R.S., Norton, D.P. (1996), The Balanced Scorecard, Harvard Business School, Boston, MA, .

[Manual request] [Infotrieve]

Little, C. (2005), "BAA Terminal 5", paper presented to IQA Conference, Bali, 18 May, .

[Manual request] [Infotrieve]

Millard, C. (2005), "Make T5 quality", internal BAA document, February, .

[Manual request] [Infotrieve]

Project Management Institute (2004), A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK Guide), 3rd ed., Project Management Institute, Newtown Square, PA, .

[Manual request] [Infotrieve]

Zagrow, H.W. (2003), "Applying the Balanced Scorecard in project management", AllPM Project Manager Project Management, November, .

[Manual request] [Infotrieve]

Further Reading

Yin, R.K. (2003), Case Study Research: Design and Methods, Sage Publications, London, .

[Manual request] [Infotrieve]

About the authors

Ron Basu is currently a Visiting Executive Fellow at Henley Business School and also a Visiting Professor at ESC Lille. Previously he held functional and executive roles in Unilever and GlaxoSmithKline. Ron Basu is the corresponding author and can be contacted at: basurn@aol.com

Chris Little is BAA Capital Programmes Quality Assurance Leader. Previously he worked for Stanger Science and Environment (Tarmac Professional Services), providing advice on quality assurance for highway structures and building projects.

Chris Millard is a Programme Director for BAA. Previously he was BAA Technical Director, Head of Engineering for Terminal 5 and held senior programme and technical appointments in the automotive industry.