Bima Hermastho

Re: Kaizen : one small step can change your life

In Uncategorized on Agustus 7, 2007 at 12:40 pm
Ini tulisan menarik dari mentorku di Yon 1, Rifki Muhida.

Ya, kaizen, seiketsu, shitsuke. Semua dg merubah mindset, doktrin, culture, kl mau lebih bernilai dari orang lain.

—–Original Message—–
From: "Rifki Muhida" <rifkimuhida@yahoo.com>
To: "hermastho@hotmail.com" <hermastho@hotmail.com>
Sent: 7/08/07 9:01 AM
Subject: Re: Kaizen : one small step can change your life

Banyak orang Jepang nggak ngerti konsep Kaizen, kalau kamu tanya
kaizen ke mahasiswa sana mereka akan bingung, mungkin blm perah
dengar, tetapi keseharian mereka melaksanakan kaizen itu. Konsep
itu cocok untuk orang jepang yang sejak kecil dibina dengan pola
itu, dan secara histori sudah ditanamkan sejak zaman samurai,
tetapi mungkin itu ngak cocok buat negara lain. Unsur penting
dari Kaizen adalah seiketsu (mebiasakan) dan shitsuke (displin),
itu yang paling berat. Saya 8 tahun tinggal dengan Profesor yang
menerapkan pola ini ke saya dan kemahasiswanya. Situasi diawal
mirip denga di Yon I, dibereskan dulu dengan (latrak) artinya
orang itu kalibrasi terlebih daulu untuk mengetaui batas
minimumnya, waktu saya datang ke profesor ini, saya dikalibrasi
disuruh resentasi setiap hari, ditekan tidur hanya 3 jam sehari,
sampai dia tahu batas kemampuan saya. Kemudian baru di tata satu
pesatu, lalu dia start dengan step berikutnya saya bisa
merasakan itu. baynak mahasiswa Indonesia yang nggak kuat pola
ini diawalnya, dan yang hanya 3 bulan lalu balik ke Indoensia
ada yang pindah kenegara lain dst.
Cara hidup suatu masayarakat memang ditentukan oleh nilai-nilai
yang berlaku, kalau diindoensia apa yang kita punya, tut wuri
handayani, atau situpak dalam militer. Masalahnya sampai sejauh
mana nilai2 itu diterapkan. Kita punya pancasila, tetapi
masayarakatnya nggak menjalankan ituatau sulit difahami karena
bahasanya susah, kita punya tutwuri handayani tetapi orang nggak
ngerti isinya jugab bahasanya juga mungkin cocok untuk orang
jawa.
Indonesia terlalu heterogen sangat jauh dengan jepang yang
homogen. Tiap suku memiliki doktrinya masing2, entah itu yang
primer atau sekunder.
Kesalahan memilih dokrin yang akan dipakai bisa fatal. Doktrin
itu harus membangun, menguatkan dan mempercepat pembangunandan
kretaivitas. Di amerika orang hanya cukup dengan satu kata,
libral, maka yang muncul kreativitas, semua orang bebas
berekspresi dan mencipta, sehinga wajar kalau Bill gates, Thomas
Alpa Edison dll muncul dinegara itu. Di jepang dengan kaizen
itu, menyebabkan mereka pintar meniru dan menghaluskan satu
karya cipta orang barat karena mereka melakukannya dengan sabar
dan terus menerus (seiketsu) bahkan lebih halus dari
penciptanya. Saya pernah lihat TV NHK tentang sejarah dan latar
belakang pemikiran bagaimana Jepang membangun bisnis
outomotifnya, yang diulai dengan meniru. Dimabil satu mobil
buatan eropa atau amerika lalu mereka pereteli, bebulan2 dan
bertahun mereka asyik dengan mesin2 mobil itu tanpa bosan, lalu
mereka mlai buat yang simple, lalu dengan seiketsu itu mereka
bisa buat yang lebih bagus abih aman dan nyaman, sehingga mobil
jepang bisa menguasai dunia. Pernah dengar bagaimana Furuno dan
Masusita memulai dan membangun bisnisnya?
Persolannya Bim, Bagaimana membuat seperti kaizen itu di
Idoensia, yang sangat heterogen ini.

Rifki Muhida

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: